CARA BIJAK MENGATASI TRAUMA

CARA BIJAK MENGATASI TRAUMA

Setiap orang pasti pernah mengalami pengalaman buruk dalam hidup. Pada batas wajar, pengalaman buruk tersebut dimaknai sebagai bagian dari pengalaman yang mungkin menghasilkan tekanan psikologis, namun tidak membawa dampak buruk berkepanjangan.

Namun jika peristiwa buruk menimpa dengan intensitas yang begitu tinggi hingga membuat tekanan atau luka secara psikologis dalam diri seseorang, kondisi ini bisa dikatakan trauma.

Dalam dunia psikologi klinis dan psikiatri, trauma yang bersifat gangguan klinis memiliki diagnosis yang dikenal dengan sebutan “Post-traumatic Stress Disorder”.

1. Gejala Trauma


Gejala trauma dapat dilihat dalam beberapa bentuk, tetapi yang paling banyak adalah berupa ingatan dan mimpi buruk terkait pengalaman traumatis tersebut. Kemunculan ingatan dan mimpi buruk ini biasanya juga akan dibarengi dengan kemunculan gejala fisik dan psikologis sebagai pertanda ketidaknyamanan. Misalnya, lari menghindar, berupa reaksi fisik yang gemetar, hingga perasaan ketakutan yang diekspresikan dengan menangis.

Kemunculan gejala yang terjadi dalam waktu yang lama dengan intensitas yang tinggi sangat perlu diwaspadai, sebab itu akan membutuhkan penanganan yang intensif.

Orang yang mengalami trauma biasanya akan berusaha mati-matian untuk menghindari objek traumanya, demi menghindari perasaan tidak nyaman atau. Cara ini mungkin ampuh untuk menghindarkan diri dari perasaan tidak nyaman sehari-hari, tetapi bukan berarti menghapus trauma yang ada. Oleh karena itu, pilihan menghindar ini sebaiknya perlu dikesampingkan.

2. Apa yang harus dilakukan ?


Diperkenalkan sebuah pendekatan terapi untuk menangani trauma yang disebut “exposure therapy”. Seperti yang tergambar dari namanya, pada prinsipnya pendekatan ini, seseorang yang trauma akan dihadapkan pada objek atau pengalaman yang membuatnya trauma secara perlahan dan bertahap, serta diajarkan cara mengendalikan gejala-gejala trauma yang muncul saat dihadapkan dengan objek atau pengalaman tadi.

Cara-cara sesederhana menenangkan diri dengan menarik napas panjang ketika ingatan traumatis datang, atau ketika terbangun malam hari akibat mimpi buruk lakukanlah relaksasi, itupun cukup.

Dukungan dari orang terdekat sangat dibutuhkan sekali, mulai dari untuk mengamati, mendampingi, hingga membantu proses coping ketika berhadapan dengan objek trauma. Berbekal kesabaran dan konsistensi usaha, cara ini teruji ampuh untuk membuat trauma yang dialami berkurang perlahan-lahan.

Ketika berhadapan dengan trauma, ingatlah bahwa upaya penanganan mandiri dan dukungan orang-orang terdekat selalu bisa dijadikan langkah awal untuk dilakukan.
Previous
Next Post »